Home » , » SEJARAH PERGERAKAN MAHASISWA

SEJARAH PERGERAKAN MAHASISWA

Written By KANG PENDI on Selasa, 06 Desember 2011 | 08.54

Sejarah pergerakan dan perubahan diberbagai negara mencatat peranan gerakan mahasiswa sebagai inspirator melalui gagasan dan tuntutanya. Mahasiswa tampil sebagai garda terdepan perjuangan dengan keberanianya dan dikenang sebagai pahlawan dalam pengorbananya. Catatan perjuangan mahasiswa tidak sealu diakhiri dengan kemenangan namum ide-ide perjuangan mahasiswa tidak akan pernah mati sampai kemenangan diraih oleh para penerus dan pendukungnya.
Saat ini kita dipenuhi dengan berbagai hal yang memudahkan, mengenakan, serba ada, serba bebas yang membuat kita mabuk kepayang. Jika hari ini pemuda-pemuda Indonesia zaman dahulu, Ki Hajar Dewantoro, M Natsir, Moh. Hatta mengetahui para penerusnya mabuk dengan minuman keras, narkoba, free sexs dan hal – hal lain yang memabukan tentu mereka akan menangis bahkan menyesal telah menjadikan Indonesia merdeka, lebih baik Rakyat Indonesia makan pangkal pohon pisang dari pada tunduk pada penjajah. Apabila hari ini kita baru sadar belum terlambat untuk merubah semuanya, dengan menerapkan 3 peran dan fungsi mahasiswa yaitu Director Of Change, Agent Of Social Control dan Iron Stock kita mampu meneruskan perjuangan para founding father bangsa ini..
Peran dan fungsi mahasiswa yang pertama sebagai Director Of Change adalah mahasiswa berperan dalam merancang, melaksanakan, dan merealisasikan setiap perubahan- perubahan menuju kearah yang lebih baik. Mahasiswa di harapkan mampu menjadi penyambung lidah rakyat terhadap pembuat kebijakan dan penerjemah lapangan terhadap setiap kebijakan dari pembuat kebijakan. Mahasiswa adalah garda terdepan perjuangan rakyat, apabila hari ini mahasiswa telah menjadi mahasiswa yang apatis, pragmatis maka bersiapalah menyambut kehancuran bangsa ini. Peran dan fungsi mahasiswa yang kedua sebagai Agent Of Social Control adalah mahasiswa harapkan memiliki kepekaan, kepedulian, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar tentang kondisi yang teraktual dengan berperan sesuai dengan bidang keilmuan masing- masing. Asumsi yang kita harapkan dengan perubahan kondisi social masyarakat tentu akan berimbas pada perubahan bangsa. Intinya mahasiswa diharapkan memiliki sense of belonging yang tinggi sehingga mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat.
Peran dan fungsi mahasiswa yang ketiga adalah Iron Stock, dalam hal ini mahasiswa diartikan sebagai cadangan masa depan. Pada saat menjadi mahasiswa kita diberikan banyak pelajaran, pengalaman yang suatu saat nanti akan kita pergunakan untuk membangun bangsa ini. Pada saat generasi yang memmipin bangsa ini sudah mulai berguguran pada saat itulah kita yang akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa ini. Namun apabila hari ini ternyata kita tidak berusaha mambangun diri kita sendiri apakah mungkin kita kan membangun bangsa ini suatu saat nanti? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, umtuk itu tetap setia digaris massa karena mundur dari perjuangan adalah sebuah penghianatan.
Tak dapat disangkal lagi, Ideologi selalu terkait dengan mahasiswa. mahasiswa sebagai
intelektual-intelektual kampus pastilah bersinggungan dengan bermacam-macam paradigma
dan ideology-ideologi tertentu dan merupakan sebuah keharusan bagi itelektual kampus untuk
mempelajari berbagai macam teori dan paradigma serta ideologi. Tetapi pada saat ideology
yang berada pada ranah teori berada pada ranah praksis maka muncul berbagai macam
masalah. Penerapan ideology pada ranah praksis tanpa disertai penyikapan yang kritis akan membuat mahasiswa jatuh kepada kubangan egoisme dan arogansi intelektual yang merasa kelompok ideologisnya yang paling benar. Sehingga setiap kelompok mencurigai kelompok lainnya. Inilah yang sekarang terjadi pada gerakan mahasiswa. penerapan ideology tanpa disertai penyikapan yang kritis, pada akhirnya menjadikan mahasiswa susah melakukan konsolidasi internal.
Bila dulu (sebelum reformasi) common interest gerakan mahasiswa adalah reformasi, maka setalah era reformasi mahasiswa dengan ideologinya masing-masing mendefenisikan reformasi menurut mereka sendiri-sendiri. Tidak adanya platform tunggal yang dapat menjadi titik temu berbagai macam gerakan-gerakan mahasiswa turut menjadikan gerakan mahasiswa
terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil.
Seiring reformasi, terjadi penguatan lembaga-lembaga non-pemerintah yang non-mahasiswa yang dahulu dibatasi. Hal ini menjadi sebuah peluang, namun sekaligus menjadi sebuah tantangan bagi gerakan mahasiswa yang tidak memiliki platform yang jelas sehingga
positioning-nya pun tidak jelas. Hal ini mengakibatkan gerakan mahasiswa seakan “tertinggal”
dari gerakan yang lain. Karena gerakan sosial bukanlah sebuah gerakan elitis maka gerakan sosial yang ada baik gerakan-gerakan mahasiswa maupun gerakan-gerakan non-mahasiswa perlu melakukan sebuah sinergisitas dalam pergerakannya. Selama ini gerakan mahasiswa terkesan bergerak sendiri-sendiri tanpa ada keserasian dalam pergerakan. Apa yang diperjuangkan oleh sebuah gerakan mahasiswa sepertinya tidak sinergi dengan gerakan mahasiswa lainnya. Gerakanmahasiswa tak hanya ada di Jakarta maupun di Jawa, gerakan mahasiswa ada diseluruh wilayah Indonesia. Dengan modal ini, mahasiswa seharusnya menjadi sebuah gerakan yang
efektif mencapai tujuan. Bila arogansi ideologis menyebabkan fragmentasi dalam tubuh
gerakan mahasiswa. maka penyebab dari tidak sinergisnya gerakan mahasiswa adalah
arogansi almamater.
Juga gerakan mahasiswa dengan gerakan non-mahasiswa selama ini terdapat kesan ingin
saling mendominasi gerakan sosial di masyarakat seperti klaim dari gerakan mahasiswa bahwa
merekalah yang paling berperan sebagai agent of sosial change .
Selama ini gerakan mahasiswa terjabak dalam citraan-citraan yang sudah tertanam dalam
benak mahasiswa sendiri. Mahasiswa selalu dicitrakan sebagai individu-individu yang idealis.
Mahasiswa juga disebut-sebut sebagai penyambung lidah rakyat, mahasiswa yang lebih baik
hidup terasingkan dalam ruang kelas yang sempit dari pada menyerah pada kemunafikan.
Gerakan mahasiswa selalu mewakili citraan-citraan diatas dengan cara-cara yang terkesan
heroic dan bersemangat.
Pola yang diambil gerakan mahasiswa pun cenderung frontal dan menafikan pola-pola yang lebih elegan. Ada kesan dalam mahasiswa bahwa bila tidak melakukan aksi turun ke jalan,
demonstrasi, dan mimbar bebas, maka suara mereka tidak akan didengar oleh pemerintah.
Pola extra parliamentary menjadi pilihan yang paling disukai oleh mahasiswa.
Mahasiswa perlu menyusun kembali landasan bagi pergerakannya. Gerakan mahasiswa jangan hanya menjadi suatu nuansa yang simbolik, tetapi harus bisa menjadi suatu gerakan
yang bermanfaat bagi tiga unsur, yaitu :
1. Gerakan mahasiswa bermanfaat bagi bangsa dan negara
2. Gerakan mahasiswa bermanfat bagi masyarakat
3 Gerakan mahasiswa bermanfaat bagi dirinya.

           Untuk menjawab pertanyaan sebelumnya, kami akan melihat perilaku kolektif mahasiswa pada masa pra hingga bergulirnya reformasi pada tahun 1998. Dalam sosiologi, perilaku kolektif adalah tindakan-tindakan yang tidak terstruktur dan spontan dimana perilaku konvensional (lama) sudah tidak dirasakan tepat atau efektif. Lebih jauh lagi, perilaku kolektif merupakan perilaku yang (1) dilakukan oleh sejumlah orang (2) tidak bersifat rutin dan (3) merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
Sejak tahun pasca tahun 1966-dimana gerakan mahasiswa berhasil menjatuhkan rejim Orde Lama-, dapat dikatakan mengalami masa stagnansi dari gerakan mahasiswa. Mahasiswa dipandang telah kehilangan kepekaaan sosial yang terjadi pada saat itu. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang begitu represif sehingga kondisi perpolitikan nasional menjadi alat yang efektif untuk mematikan aspirasi dan gerakan mahasiswa. Pengekangan tersebut telah membuat mahasiswa-kebanyakan-menjadi kehilangan daya kritisnya terhadap kondisi sosial yang berkembang.
Menyadari bahwa perguruan tinggi dan lembaga pemerintah tidak dapat diharapkan, sebagian mahasiswa coba menciptakan ruang-ruang berkembangnya sendiri. Mereka kemudian memilih untuk melakukan aktifitas mereka diluar kampus. Selain membentuk kelompok-kelompok diskusi, mahasiswa juga membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menangani berbagai isu-isu sosial. Aksi protes mahasiswa masih berlanjut akan tetapi masih sangat sporadis dan dampaknya belum meluas, baik itu dikalangan mahasiswa maupun masyarakat umumnya dan semakin lemah sampai akhirnya menghilang akhir 1970-an.
Gairah pergerakan di kelompok mahasiwa kemudian mulai kembali pada tahun 90-an saat akumulasi berbagai permasalahan sosial makin tajam. Mereka lebih cenderung mengangkat masalah-masalah yang aktual pada saat itu, misalnya masalah kelaparan atau bencana di satu daerah dan permasalahan keseharian yang dihadapi oleh masyarakat. Akan tetapi, pola yang digunakan tidak berubah; masih sporadis dan dilakukan dalam kampus. Pada awalnya tidak semuanya mahasiswa tersebut tergerak untuk menanggapi masalah sosial yang muncul.
Dalam melihat fenomena ini, Ricardi melakukan pembagian lima kelompok mahasiwa dalam merespon kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada di masyarakat. Pertama adalah kelompok idealis konfrontatif, dimana mahasiwa tersebut aktif dalam perjuangannya menentang pemerintah melalui aksi demonstrasi. Kedua, kelompok idealis realistis adalah mahasiwa yang memilih koperatif dalam perjuangannya menentang pemerintah. Ketiga, kelompok opportunis adalah mahasiswa yang cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa. Keempat adalah kelompok profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kuliah. Terakhir adalah kelompok rekreatif yang berorientasi pada gaya hdup yang glamour.
Lalu bagaimana kelompok-kelompok mahasiswa tersebut dapat bergerak dalam menggulirkan sebuah perubahan sosial di Indonesia? Menurut Ricardi, pada masa itu muncul conscience collective, kesadaran bersama dimana mahasiswa merupakan satu kelompok yang harus bersatu padu. Dalam kondisi perilaku kolektif, terdapat kesadaran kolektif dimana sentimen dan ide-ide yang tadinya dimiliki oleh sekelompok mahasiswa yang menyebar dengan begitu cepat sehingga menjadi milik mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa terhadap pemerintah disambut oleh masyarakat yang menjadi korban dari sistem yang ada. Aksi dari mahasiswa kemudian direspon oleh masyarakat melalui secara sukarela memberikan bantuan kepada para mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi.
Gerakan mahasiswa pada tahun 1998-tepatnya bulan Mei-cenderung pada perilaku kerumunan aksi dimana aksi demonstrasi mereka lakukan secara terus menerus dengan mengandalkan mobilisasi massa demi tujuan bersama. Menurut Blumer, perilaku kerumunan yang bertindak dimana mereka mempunyai perhatian dan kegiatan yang ditujukan pada beberapa target atau objektif. Tuntutan gerakan mahasiswa sendiri pada pasca kejatuhan rejim Orde Baru cenderung pada perubahan sistem politik dan struktur pemerintahan.
Melihat pemaparan diatas serta landasan teori yang kami gunakan diatas, jelas bahwa gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah satu proses reformasi dalam perubahan sosial. Reformasi sendiri menurut Kornblum, gerakan yang hanya bertujuan untuk mengubah sebagian institusi dan nilai. Lebih jauh lagi, gerakan ini merupakan upaya untuk memajukan masyarakat tanpa banyak mengubah struktur dasarnya. Gerakan semacam ini biasanya muncul di negara-negara yang demokratis.
Melihat kembali kegiatan mahasiswa yang pada dekade 80-an sampai 90-an mengalami stagnasi dalam pergerakan menyuarakan ketidakadilan dalam masyarakat maka dapat dikatakan bahwa pada awalnya pergerakan mahasiswa bersifat gerakan moral (moral movement). Isu-isu yang disuarakan lebih pada perbaikan-perbaikan pada hal-hal yang mengakibatkan penderitaan yang dialami masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu.
Dalam perkembangan selanjutnya pergerakan mahasiswa melihat bahwa isu itu dapat berkembang pada isu yang lain. Hal ini mungkin disebabkan oleh sifat instant yang mempengaruhi pola perilaku mahasiswa. Sifat ini tidak melihat lebih dalam mengenai masalah yang ada, dalam arti setiap masalah sebenarnya mempunyai akar permasalahan yang terlebih dahulu mendapat perhatian. Penemuan pada akar permasalahan memungkinkan mahasiswa untuk menyuarakan isu yang tepat sasaran sehingga mereka konsisten dalam gerakannya. Namun, karena pada kenyataannya mahasiswa kadang tidak memiliki basis konsep yang jelas sehingga perhatian awal mudah sekali menyimpang atau lebih parah lagi mengalami perubahan yang bertolak belakang dengan isu awal. Gerakan mahasiswa di Indonesia kemudian mengalami perubahan dari sebuah gerakan moral menyuarakan masalah-masalah sosial-permasalahan yang sehari-hari dihadapi oleh masyarakat-kemudian berubah menjadi sebuah gerakan politik. Gerakan mahasiswa sebaiknya kembali menjadi gerakan yang mempunyai pandangan lebih mendalam dalam berbagai masalah sosial yang melanda bangsa ini. Akhir kata, konsep yang jelas dalam usaha perubahan sosial ada syarat utama dalam membangun kembali Indonesia, perjuangan belum selesai…
Share this article :

Poskan Komentar